Rabu, 02 Desember 2015
Selasa, 08 September 2015
ABDURRAHMAN BASWEDAN
AR Baswedan adalah seorang pemberontak di zamannya.
Harian Matahari Semarang memuat tulisan Baswedan
tentang orang-orang Arab, 1 Agustus 1934. AR Baswedan memang peranakan Arab,
walau lidahnya pekat bahasa Jawa Surabaya,
bila berbicara. Dalam artikel itu terpampang foto Baswedan mengenakan blangkon. Ia menyerukan pada orang-orang
keturunan Arab agar bersatu membantu perjuangan Indonesia. Ia mengajak
keturunan Arab, seperti dirinya sendiri, menganut asas kewarganegaraan ius soli: di mana saya lahir,
di situlah tanah airku.
Pada
tanggal 4 Oktober 1934,
setelah pemuatan artikel yang menghebohkan itu, ia mengumpulkan para peranakan
Arab di Semarang. Dalam kongres para pemuda perananakan Arab itu dikumandangkan Sumpah Pemuda
Keturunan Arab yang
menyatakan Indonesia sebagai tanah air dan akan berjuang untuk mendukung
tercapainya kemerdekaan Indonesia. Lalu berdirilahPartai
Arab Indonesia (PAI),
dan AR Baswedan dipilih sebagai ketua. Sejak itu ia tampil sebagai tokoh
politik. Harian Matahari pun ditinggalkannya. Padahal, ia
mendapat gaji 120 gulden di
sana, setara dengan 24 kuintal beras waktu itu. Demi perjuangan,katanya.
Baswedan juga berporofesi sebagai wartawan. Saat
bekerja di Sin Tit Po, ia mendapat 75 gulden --
waktu itu beras sekuintal hanya 5 gulden. Ia kemudian keluar dan memilih
bergabung dengan Soeara
Oemoem, milik dr. Soetomo dengan
gaji 10-15 gulden sebulan. Karena itu, Soebagio
I.N., dalam buku Jagat Wartawan, memilih Baswedan sebagai salah
seorang dari 111 perintis pers nasional yang tangguh dan berdedikasi.
Sebagai
wartawan pejuang Baswedan produktif menulis. Ia sastrawan, penyair, dan
seniman. Pidatonya atraktif. Mahir dalam seni teater. Banyak sajak-sajak yang
ia gubah. Ia menguasai bahasa Arab, juga bahasa Inggris dan bahasa Belanda, selain bahasa Indonesia tentunya. Karya AR Baswedan yang telah
dibukukan antara lain: Debat
Sekeliling PAI, yang dicetak tahun 1939, beberapa catatan berjudul Sumpah Pemuda Indonesia Keturunan
Arab (1934), Rumah Tangga Rasulullah,
diterbitkan Bulan Bintang pada tahun 1940. Selain itu buah pikiran dan
cita-cita AR Baswedan yang diterbitkan oleh Sekjen PAI Salim Maskati. Dan Menuju Masyarakat Baru, sebuah
cerita Toneel dalam 5 Bagian.
Perjuangan AR Baswedan berlanjut di
republik baru. Bersama dengan Haji Agus Salim (Menteri Muda Luar Negeri), Rasyidi (Sekjen Kementrian
Agama), Muhammad
Natsir dan St. Pamuncak, AR Baswedan (Menteri
Muda Penerangan) menjadi delegasi diplomatik pertama yang dibentuk oleh negara
baru merdeka ini. Mereka melobi para pemimpin negara-negara Arab. Perjuangan
ini berhasil meraih pengakuan pertama atas eksistensi Republik Indonesia secara
de facto dan de yure oleh Mesir.
Lobi panjang melalui Liga Arab dan di Mesir itu menjadi tonggak pertama keberhasilan
diplomasi yang diikuti oleh pengakuan negara-negara lain terhadap Indonesia,
sebuah republik baru di Asia Tenggara.
AR Baswedan menyelesaikan naskah
autobiografinya di Jakarta pada akhir bulan Februari 1986.
Sekitar 2 minggu kemudian, kondisi kesehatan AR Baswedan menurun dan meninggal.
AR Baswedan dimakamkan di TPU Tanah
Kusir berdampingan dengan para pejuang
Indonesia yang menolak dimakamkan di Taman Makam Pahlawan.
Peninggalan AR Baswedan adalah
koleksi buku-bukunya yang berjumlah lebih dari 5.000 buku. Wasiat AR Baswedan
adalah buku-buku itu dijadikan perpustakaan. Buku-buku berbahasa Arab, Belanda,
Inggris, dan Indonesia itu ditata rapi (dengan katalog modern) di kamar depan
-yang dahulu menjadi ruang kerjanya- di rumahnya di Kota Yogyakarta dan masyarakat luas (terutama kaum mahasiswa) bisa dengan mudah
mengakses koleksi buku-buku peninggalan AR Baswedan ini. AR Baswedan banyak
berinteraksi dengan anak-anak muda. Beberapa anak muda yang dekat dengan AR
Baswedan diantaranya adalah Alm. Ahmad Wahib, Anhar Gonggong, Emha Ainun Nadjib, Goenawan Mohamad, Lukman Hakiem
(PPP), Syu'bah
Asa, Taufiq Effendi (MenPan), W.S. Rendra dan hampir semua aktivis muda di Yogyakarta pada periode
1960--an sampai 1980an.
AR Baswedan menikah dengan Sjaichun. Pada tahun 1948
Sjaichun meninggal dunia di Kota Surakarta karena serangan malaria. Tahun 1950 AR Baswedan menikah lagi
dengan Barkah Ganis, seorang tokoh pergerakan perempuan, di rumah KH Ahmad Dahlan di Yogyakarta, Muhammad Natsir bertindak sebagai wali dan menikahkan
mereka. Dia dikarunia 11 anak dan 45 cucu.
Baswedan
sangat sederhana dan tidak pernah memikirkan harta material. Sampai akhir
hayatnya AR Baswedan tidak memiliki rumah. Dia dan keluarga menempati rumah
pinjaman di dalam kompleks Taman Yuwono di Yogyakarta, sebuah kompleks
perumahan yang dipinjamkan oleh Haji Bilal untuk para pejuang revolusi saat Ibukota
di RI berada di Yogyakarta. Mobil yang dimilikinya adalah hadiah ulang tahun ke
72 dari sahabatnya Adam Malik, saat menjabat Wakil Presiden.
Cucunya, Anies Baswedan adalah Menteri Kebudayaan, Pendidikan
Dasar dan Menengah Republik Indonesia pada Kabinet Kerja di era Presiden Jokowi.
Langganan:
Komentar (Atom)